Dinda dengarkan aku
kita harus bicara
tentang apa arti kita
karena memendam pedih pun hatiku berkata
inilah saat nya....
Sgala yang terjadi hanya terucap kata
dirimu ada dihatiku
ketika ku tak kuasa
jujur seiring waktu
hingga ku telah bersamanya...
cinta abadi yang terluka hingga sekian lama kau masih menunggu
untuk diriku ada dihatimu...
slalu ku yang tak pernah mampu tuk ungkapkan semua
saat kau didekatku
maafkan aku...
Sadarku resap hati
perih yang telah ada
tak mudah angin membawanya pergi
lupakan berjuta kisah kita,maafkan diriku engkau merasakan...
CINTA ABADI YANG TERLUKA
HINGGA SEKIAN LAMA KAU MASIH MENUNGGU UNTUK DIRIKU ADA DIHATIMU...
SLALU KU YANG TAK PERNAH MAMPU TUK UNGKAPKAN SEMUA SAAT KAU DIDEKAT KU
MAAFKAN AKU....
Selasa, 14 Desember 2010
Sabtu, 20 November 2010
MY SHEILA ON 7
Dan Kau Bisikkan Kata Cinta
Kau Tlah Percikkan Rasa Sayang
Pastikan Kita Seirama
Walau Terikat Rasa Hina
yah inilah sebait refrain lirik lagu yang diciptakan oleh Eross Chandra, lagu ini menjadi awal munculnya sebuah band pada tahun 1999 yang fenomenal, fantastic dan sebagainya lah…
Kau Tlah Percikkan Rasa Sayang
Pastikan Kita Seirama
Walau Terikat Rasa Hina
yah inilah sebait refrain lirik lagu yang diciptakan oleh Eross Chandra, lagu ini menjadi awal munculnya sebuah band pada tahun 1999 yang fenomenal, fantastic dan sebagainya lah…
Sheila on 7, band asal Jogja ini yang dipunggawai oleh Anton sebagai penggebug Drum, Adam Subarkah sang pembetot Bass, Akhdiyat Duta Modjo yang berposisi di garis depan sebagai Vokalis dan duet maut Gitaris yang diperankan oleh Erros Chandra dan Sakti. kelima anak2 muda langsung menggebrak dunia musik Indonesia dengan hits2nya seperti Dan, Anugrah Terindah Yang Pernah Kumiliki, J.A.P ( Jadikan Aku Pacarmu ). siapa sangka lagu2 mereka diterima insan2 pecinta musik di Indonesia raya ini alhasil sebuah rekor pun tercipta, bayangin aja album pertama mereka yang bertajuk nama band mereka ini terjual laris manis kaya’ sembako, gila satu juta copy!!!!! mo komentar apalagi coba????
Sampe saat ini Sheila on 7 telah mengeluarkan 6 album, 1 album the best dan sebuah album soundtrack film. Kisah Klasik Untuk Masa Depan menjadi album kedua pada tahun 2000, 07 Des ( 2002 ), Ost 30 Hari Mencari Cinta ( 2003 ), Pejantan Tangguh ( 2004 ), the very best of ( 2005 ), 507 ( 2006 ) dan Menentukan Arah ( 2008 ).
sayang banget anak2 pandawalima ini ga bisa bersatu sampe saat ini, berawal dari mundurnya anton karena masalah internal yang ga bisa diselesaikan beberapa saat setelah album soundtrack film 30 hari mencari cinta liris. Posisi anton akhirnya digantikan oleh Brian sebagai additional drummer. pada tahun 2006 Sakti memutuskan untuk keluar dari Sheila on 7, bukan karena masalah internal lagi tapi karena Sakti lebih berkonsentrasi mendalami agama islam, dia pengen jadi muslim yang baik!!!!! jarang2 lho ada musisi yang rela berhenti dari karirnya demi agama….salut banget…
sakti cabut Brian Kresna Putro pun resmi diangkat sebagai pegawai tetapnya Sheila on 7. kepergian sakti langsung telihat dalam album kelima mereka yang bertajuk 507, harmonisasi gitar melodi dan ritem musnah sudah, erros kehilangan tandemnya. makanya Sheila on 7 sempat menggaet Prisa sebagai additional guitar player selama tour album 507. keren banget tu cewek, cantik lagi !!! oh ya hampir kelupaan lagu PEMENANG dalam album 507 juga masuk dalam album kompilasi PIALA DUNIA tahun 2006, italia lho juaranya.
Cerita yang terakhir dan masih jalan terus ya tentu aja album menentukan arah. band yang berdiri 10 tahun yang lalu, tepatnya 6 Mei 1996 kembali melangkah setelah sempat kehilangan arah. album ini berisi 10 lagu dengan BETAPA sebagai single pertama meraka yang dilempar beberapa bulan sebelum album ini rilis, dilanjutin YANG TERLEWATKAN, lagu ini nyaris saja gak diikutin dalam album ini tapi mas bryan sang drummer kekeh minta lagu ini diikutsertakan…alhasil malah jadi single kedua yang uuuuuuh banget…
kau Alasanku untuk dewasa yang selalu tunjukkan Jalan Keluar dalam Menentukan Arah, kau tak akan menjadi Yang Terlewatkan dalam hidupku
Betapa bingungnya aku merangkai kata-kata ini tapi yang penting kau lah Segalanya bagiku.
Allah Ku
HANYA KAU MILIKKU DI SURGA
TIADA YANG KUINGINI DI BUMI, HANYA KAU
TAK KUANDALKAN KEKUATANKU
NAMUN, YANG PASTI KAU TETAP SELAMANYA
ALLAH, SUMBER KUATKU, ALLAH, SUMBER KUATKU
ALLAH, SUMBER KUATKU, DAN BAGIANKU SELAMANYA
ALLAH, SUMBER KUATKU, ALLAH, SUMBER KUATKU
ALLAH, SUMBER KUATKU, DAN BAGIANKU SELAMANYA
SLAMANYA
Jumat, 19 November 2010
Rabu, 17 November 2010
Refleksi Filosofis tentang Kebebasan
Secara instinktif, kita sering mengira definisi kebebasan berarti dapat berpikir semaunya dan bertindak semaunya. Tetapi itu suatu definisi yang tidak hanya ditolak para pemikir kebebasan, tapi juga tidak operasional.
Pertama, karena kita hidup dalam masyarakat yang memproduksi banyak peraturan dan nilai-nilai moral tentang baik dan buruk. Tindakan kita dibatasi oleh aturan dan nilai-nilai moral. Dengan kata lain, kebebasan sosial kita terbatas
Kedua, kalaupun kita hidup seperti Robinson Crusoe, di sebuah pulau terpencil tanpa orang lain, tetap Robinson tidak dapat bertindak semaunya. Mungkin ia ingin terbang supaya bisa pulang. Tapi tentu tidak mungkin. Jadi fisik kita pun membatasi kebebasan bertindak meskipun kita ingin. Makin tua kita, makin terbatas kebebasan fisik manusia.
Ketiga, andaipun Robinson bisa terbang, tindakan terbangnya itu pun dibatasi dan seolah ditentukan (lagi) oleh nalurinya: rasa lapar, rasa rindu, keinginan untuk tetap hidup, dan harapan untuk pulang ke kampung halamannya. Kebebasan psikis kita dikerangkeng oleh berbagai naluri, nafsu dan impuls-impuls.
Jadi pengertian kebebasan untuk bertindak semaunya itu dalam dunia nyata maupun imajinasi tidak dapat dipertanggungjawabkan di hadapan mahkamah akal budi.
Lalu apa dong kebebasan itu? Di sini, sumbangan Rudolf Steiner mengenai filsafat kebebasan menjadi sangat berguna untuk membantu kita memahami kebebasan. Gagasannya saya ringkas sebagai berikut: Pertama Rudolf menunjuk adanya dua realita: yaitu manusia dan di luar manusia. Manusia dilengkapi kemampuan yang disebut sensory perceptions untuk mengakses realita di luar dirinya yang beragam (alam, tumbuhan, binatang, orang lain). Persepsi yang tersensor ini ternyata toh dipengaruhi oleh tujuh instansi/level motives yaitu:reflexes, drives, desires, motifs, wishes, intentions, and commitments.
Dengan kombinasi berbagai level itu, manusia memproduksi berbagai persepsi yang tersensor untuk memaknai dunia luar dan dirinya, istilahnya consciousness (tolong jangan diterjemahkan menjadi “kesadaran”). Karena tersensor, celakanya atau untungnya, persepsi itu menghasilkan sebuah dunia pemahaman yang penuh kontradiksi, dualitas, polarisasi: baik-buruk, benar-salah, cantik-jelek dsb. Semakin berargam level motif yang memasuki sebuah fenomena, semakin ruwet polarisasi persepsi itu.
Pada titik itu, hebatnya manusia, muncul fenomena kehendak bebas, yaitu kemampuan dalam diri manusia untuk membuat pilihan-piliahan dan lalu menciptakan sintesa kreatif atas persepsi yang berbeda-beda. Oleh Rudolf kemampuan itu disebut kehendak bebas (free-will).
Dengan kata lain, kehendak bebas hanya muncul dalam kontradiksi-kontradiksi. Tanpa kontradiksi tidak ada wilayah untuk melakukan eksplorasi kebebasan. Sintesa berbagai persepsi yang berasal dari kebebasan itu diperlukan agar manusia tidak terpecah belah jati dirinya. Sintesa persepsi itu disebut moral imagination, sebuah rangkaian keputusan atau pilihan yang betul-betul personal atau subyektif.
Dalam pengertian itu, otoritas moral tidak lagi berada pada masyarakat, keluarga atau sebuah teks suci, tetapi dalam hati sanubari seorang individu. Segala petunjuk, perintah, guidancedari otoritas di luar diri manusia, seolah menjadi sumbangan saja, dan diri manusia sendirilah yang mengambil keputusan berlaku tidaknya bagi dirinya sendiri.
Kedua, sampai di titik itu moral imagination merupakan hasil kerja yang seolah berada dalam hati dan budi individual. Selanjutnya Rudolf mengamati peran ego, yang mempunyai “kehendak untuk bertindak” dalam diri manusia untuk mempengaruhi dunia di luar dirinya, berpangkal dari imaginasi moral yang yang sudah dimilikinya. Ego yang hendak mengkomunikasikan dirinya itu disebutnya self-awareness (lagi, jangan diterjemahkan dengan kata “kesadaran”).
Dalam arti itu, muncul tindakan yang sungguh bebas, atau kebebasan. Kebebasan lalu berarti segala ragam tindakan yang diambil berdasarkan kehendak bebas yang didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan moral imagination seseorang. Maka kebebasan dalam arti itu dengan sendirinya selalu dan sama dengan kebebasan yang dapat dipertanggungjawabkan. Yakni, dapat dipertanggungjawabkan dengan menggunakan perangkat moral imaginationnya.
Tetapi hendaknya kita berhati-hati menggunakan istilah “kebebasan yang bertanggungjawab” yang sering secara instinktif, diartikan sebagai tanggungjawab yang didasarkan pada otoritas di luar dirinya (peraturan, teks, ideologi, kepercayaan, nilai-nilai kelompok/masyarakat/suku dsb), karena istilah itu rawan manipulasi.
Moral imangination dengan sendirinya akan mencapai bentuk yang tertinggi, manakala manusia dibantu dan mampu membebaskan diri dari instink naturalnya dan dari tekanan kelompok, dari prasangka-prasangka yang diwariskan oleh keluarga, suku, kelompok agamanya dan sebagainya. Dan di ujung itu Rudolf mengatakan: “
Live through deeds of love, and let others live with understanding for each person’s unique intentions”
Ringkasnya:
Tindakan yang betul-betul bebas (self-awareness) hanya mungkin terjadi bila berpangkal dari sintesa persepsi yang disebut moral imagination. Imaginasi moral ini merupakan konstruksi kreatif dari kontradiksi-kontradiksi yang di temui manusia ketika manusia mendapat kesempatan untuk meneliti motif-motif mana yang bekerja dan mempengaruhi dirinya. Kontradiksi-kontradiksi itu hanya muncul karena persepsi kita tersensor oleh berbagai motif, baik naluriah maupun warisan-warisan prasangka.
Aplikasinya:
Realita yang dihadapi manusia adalah realita persepsi yang penuh kontradiksi, baik dan buruk saling menggauli, benar dan salah berdamping-dampingan, hidup dan mati terjadi serentak, sehat dan sakit saling melengkapi. Menghadapi situasi itu, kehendak bebas untuk membuat sintesa imaginasi moral harus dijamin. Dan hanya berpangkal dari imaginasi moral yang bermutu, tindakan yang betul-betul bebas secara moral dapat muncul. Mutu keputusan atau tindakan manusia ditentukan oleh apakah tindakan itu sungguh berasal dari kehendak bebas. Pergi berdoa karena dipaksa, dan takut dihukum, sama sekali tidak bermutu, tidak manusiawi. Manusia lalu sama seperti bola salju yang dilempar orang ke
sana kemari. Terpecah dan tanpa arah.
sana kemari. Terpecah dan tanpa arah.
Lalu, apakah kebebasan harus diatur? Apa relevansinya dengan freedom of speech?
Dalam konteks itu freedom of speech menjadi salah satu prasyarat penting agar manusia dapat tetap bertemu dengan berbagai kontradiksi, meneliti motif-motif dalam dirinya, dan lalu dapat mengkonstruksi moral imagination yang semakin berbobot. Prasyarat-prasyarat lain terangkum dalam semua hal yang dirumuskan sebagai hak azasi manusia. Freedom of speech diperlukan karena bagaimanapun moral imagination, sebagai dasar tindakan, tidak pernah lengkap, tidak pernah sempurna dan selalu harus dikritisi. Apa peran keluarga/masyarakat/pemerintah? Peraturan, nilai dan norma masyarakat tentu diperlukan. Untuk apa? Bukan pertama-tama untuk memberi batas-batas, sebaliknya pertama-tama untuk memberi jaminan kesempatan tiap individu membangun imaginasi moralnya yang makin lama-makin lengkap. Peraturan harus dibuat untuk mempertahankan ruang situasi kebebasan itu, dan bukannya menutupinya. Menutup-nutupi beresiko lenyapnya imaginasi moral otentik dan tidak ada lagi tindakan yang didasarkan pada keputusan bebas manusia. Peraturan ditujukan untuk melindungi agar ruang-ruang kebebasan dapat di jamin keberadaannya. Singkat cerita, Concern para pembela kebebasan, adalah:
1) Buatlah peraturan hukum agar ruang kebebasan untuk setiap individu membangun imaginasi moral yang otentik dapat dijamin (Penjabaran hak-hak azasi manusia).
2) Buatlah peraturan hukum untuk melarang tindakan sewenang-wenang dari siapapun, atas nama apapun, yang dapat mengurangi ruang kebebasan itu. Berpangkal dari filsafat kebebasan seperti inilah kemudian dibangun azas-azas politik liberalisme dengan berbagai variannya termasuk neoliberalisme. Banyak kritik yang diajukan, tentu saja. Tapi dalam pembahasan berikut ya. Atau, ada yang mau menambahi?
Selasa, 16 November 2010
tentang jepang
Tokyo, ibukota jepang. Kota metropolitan terbesar di negeri ini. Kota ini terletak di provinsi kanto lebih tepat lagi di selatan negara jepang di pulau honshu. Berbicara mengenai tokyo takkan ada habisnya, kota metropolitan ini mempunyai 47 bagian (distrik/regional). Bila mempergunakan bahasa Indonesianya, terbagi atas 26 kota, 5 kabupaten, 8 desa, termasuk dua pulau kecil Izu dan Ogasawara.
Ada sebagian orang, menyebut tokyo sebagai "sindrom paris". Kenapa demikian? Pernah lihat film taxi 2, dimana salah satu korban berada di menara eiffel, dan saat melihat menara tersebut dia menyebut "tokyo towa". Mungkin mengira bahwa menara tersebut adanya di tokyo doang, padahal tokyo tower adalah duplikat dari menara eiffel. Kehidupan orang japan ditokyo hampir menyerupai orang prancis (katanya seeh, saya belum pernah ke eropa).
Satu yang membuat saya terheran, saat saya memasuki stasiun kereta tokyo. Lorong untuk setiap kereta hingga 6 lantai. Dan lorong tujuan pulang ketempat tinggal saya terletak di lantai dasar, atau base 4. Kemudian saat saya menaiki tingkat teratas dari tokyo tower, seakan terbang diri ini, aku sudah mencapai yang tertinggi di negara ini. Pengalaman udik saya, menjadi pemicu, saya harus berkembang di negara ini.
Apa hanya tokyo tower menjadi ikon di kota tersebut, masih banyak yang engkau ceritakan bila berada di kota termegah bagiku. Saat anda menuju distrik tokyo lainnya, pergi ke Odaiba. anda akan keheranan bila melihat patung liberty, berdiri kokoh dengan jembatan terpanjang didunia amerika juga tertancap di kota ini.
Kota menarik lainnya, shinjuku sebagai kota glamor dan kota gaul di jepang. Shibuya, kota dengan peradaban tinggi, serta patung pertemuan hachiko yang tersohor. Akihabara yang telah aku ceritakan , sebagai kota elektronik di jepang. kemudian asakusha, ginza, ikebukuro serta nihonbashi
buka "KamusBahasaJepang.com" untuk kamus bahasa jepang
Lirik Lagu Bondan ft. Fade2Black – Kita Selamanya
eiyo… it’s not the end, it’s just beginning
titz:
ok… detak detik tirai mulai menutup panggung
tanda skenario… eyo… baru mulai diusung
lembaran kertas barupun terbuka
tinggalkan yang lama, biarkan sang pena berlaga
kita pernah sebut itu kenangan tempo dulu
pernah juga hilang atau takkan pernah berlalu
masa jaya putih biru atau abu-abu (hey)
memori crita cinta aku, dia dan kamu
saat dia (dia) dia masuki alam pikiran
ilmu bumi dan sekitarnya jadi kudapan
cinta masa sekolah yang pernah terjadi
dat was the moment a part of sweet memory
kita membumi, melangkah berdua
kita ciptakan hangat sebuah cerita
mulai dewasa, cemburu dan bungah
finally now, its our time to make a history
bergegaslah, kawan… tuk sambut masa depan
tetap berpegang tangan, saling berpelukan
berikan senyuman tuk sebuah perpisahan!
kenanglah sahabat… kita untuk slamanya!
satu alasan kenapa kau kurekam dalam memori
satu cerita teringat didalam hati
karena kau berharga dalam hidupku, teman
untuk satu pijakan menuju masa depan
saat duka bersama, tawa bersama
berpacu dalam prestasi… (huh) hal yang biasa
satu persatu memori terekam
didalam api semangat yang tak mudah padam
kuyakin kau pasti sama dengan diriku
pernah berharap agar waktu ini tak berlalu
kawan… kau tahu, kawan… kau tahu kan?
beri pupuk terbaik untuk bunga yang kau simpan
bergegaslah, kawan… tuk sambut masa depan
tetap berpegang tangan dan saling berpelukan
berikan senyuman tuk sebuah perpisahan!
kenanglah sahabat…
titz:
ok… detak detik tirai mulai menutup panggung
tanda skenario… eyo… baru mulai diusung
lembaran kertas barupun terbuka
tinggalkan yang lama, biarkan sang pena berlaga
kita pernah sebut itu kenangan tempo dulu
pernah juga hilang atau takkan pernah berlalu
masa jaya putih biru atau abu-abu (hey)
memori crita cinta aku, dia dan kamu
saat dia (dia) dia masuki alam pikiran
ilmu bumi dan sekitarnya jadi kudapan
cinta masa sekolah yang pernah terjadi
dat was the moment a part of sweet memory
kita membumi, melangkah berdua
kita ciptakan hangat sebuah cerita
mulai dewasa, cemburu dan bungah
finally now, its our time to make a history
bergegaslah, kawan… tuk sambut masa depan
tetap berpegang tangan, saling berpelukan
berikan senyuman tuk sebuah perpisahan!
kenanglah sahabat… kita untuk slamanya!
satu alasan kenapa kau kurekam dalam memori
satu cerita teringat didalam hati
karena kau berharga dalam hidupku, teman
untuk satu pijakan menuju masa depan
saat duka bersama, tawa bersama
berpacu dalam prestasi… (huh) hal yang biasa
satu persatu memori terekam
didalam api semangat yang tak mudah padam
kuyakin kau pasti sama dengan diriku
pernah berharap agar waktu ini tak berlalu
kawan… kau tahu, kawan… kau tahu kan?
beri pupuk terbaik untuk bunga yang kau simpan
bergegaslah, kawan… tuk sambut masa depan
tetap berpegang tangan dan saling berpelukan
berikan senyuman tuk sebuah perpisahan!
kenanglah sahabat…
Sabtu, 13 November 2010
Inspirasi
Jika Anda selalu melakukan apa yang selalu Anda lakukan, Anda akan selalu mendapatkan apa yang Anda selalu punya -. " Ian Hill, Motivational Speaker
Jadi masuk akal bahwa jika saya ingin hasil yang berbeda, saya harus menggoyang. Jika saya ingin menjadi penulis maka saya harus mulai bertindak seperti satu. Tidak ada lagi zonasi di depan TV setiap malam, tidak lebih surfing internet pada jam makan siang saya. Aku harus sibuk menuliskan hati kecilku.
Orang lain berencana untuk menggoyang? Bagaimana?
Jadi masuk akal bahwa jika saya ingin hasil yang berbeda, saya harus menggoyang. Jika saya ingin menjadi penulis maka saya harus mulai bertindak seperti satu. Tidak ada lagi zonasi di depan TV setiap malam, tidak lebih surfing internet pada jam makan siang saya. Aku harus sibuk menuliskan hati kecilku.
Orang lain berencana untuk menggoyang? Bagaimana?
Buku-Buku Kutu Buku
Cerpen: Pamusuk Eneste
SEBETULNYA sudah berulang kali istri Kolbuher memperingatkan agar buku-buku di perpustakaan suaminya tidak ditambah lagi. Namun, peringatan itu tampaknya seperti angin lalu saja. Tiap hari ada saja buku yang datang. Tiap hari ada saja majalah atau jurnal yang datang.
"Lama-lama uang pensiunanmu habis untuk membeli buku, Pak," kata sang istri.
"Lo, aku kan tidak beli buku-buku itu, Bu. Mereka yang mengirimi aku buku. Masa aku tolak? Tidak mungkin toh," ujar Kolbuher.
Sejak pensiun beberapa bulan yang lalu, Kolbuher sebetulnya sudah tidak pernah membeli buku. Itu kesepakatan dengan istrinya dan dengan dirinya sendiri.
"Lagi pula, usia Bapak kan sudah lanjut. Kasihan Bapak harus mengurus sendiri buku-buku itu."
"Harusnya memang aku menggaji seseorang untuk mengurus perpustakaanku."
Pada saat lain, istri Kolbuher mengatakan, "Lama-lama perpustakaanmu tidak bisa lagi menampung buku. Jangan-jangan, rumah kita juga bisa tenggelam karena buku-bukumu."
Namun, buku tetap saja mengalir ke rumah Kolbuher. Oleh karena itu, istri Kolbuher malah pernah berkata, "Hati-hati lo, Pak. Suatu ketika Bapak bisa ditelan buku-buku itu."
***
KALAU sudah masuk ke perpustakaan merangkap ruangan kerjanya itu, Kolbuher memang tidak mau diganggu oleh siapa pun. Bahkan oleh istrinya sendiri! Ia juga tidak suka ada orang lain masuk ke ruangan itu meski hanya untuk membersihkan debu atau mengepel lantainya sekalipun. Ia tidak mau ada orang yang memindah-mindahkan susunan buku di perpustakaannya itu. Menurut Kolbuher, "Kalau letak buku di ruangan itu berubah maka aku akan bingung mencarinya nanti bila diperlukan."
Perpustakaan Kolbuher berukuran 4x6 meter. Jendelanya menghadap ke timur. Kalau pagi, ruangan itu memperoleh sinar matahari. Jendela itu dibuka sepanjang hari kecuali jika turun hujan.
Di keempat sisi tembok berdiri rak buku yang terbuat dari kayu, berpetak-petak, dan penuh dengan buku hingga ke langit-langit. Bahkan di lantai depan rak buku itu pun bergeletakan buku yang tidak termuat dalam rak.
Di tengah ruangan menghadap ke jendela, membelakangi pintu masuk, terdapat kursi empuk dan meja kerja Kolbuher. Di meja itu ada komputer. Namun, meja itu pun terasa sumpek karena kiri kanannya penuh dengan buku.
Istri Kolbuher sudah mengingatkan agar buku di meja itu disingkirkan sebagian. Dengan demikian, Kolbuher bisa lebih lega membaca, menulis, ataupun menggunakan komputer.
Namun, Kolbuher cuek saja. Bahkan, Kolbuher juga bergeming ketika istrinya berkata sambil meninggalkan perpustakaan yang sumpek itu, "Suatu saat, buku-buku itu bisa menelanmu hidup-hidup, lo Pak."
***
BUKU-BUKU itu pula yang menyebabkan istri Kolbuher kini berada di kantor polisi. "Ketika Ibu meninggalkan Bapak menuju warung, apakah Bapak masih sehat?" istri Kolbuher mengangguk.
"Waktu itu, Bapak tidak mengatakan apa-apa?"
"Tidak, Pak."
"Barangkali memesan sesuatu dari warung?"
Istri Kolbuher menggeleng lagi.
"Misalnya minta dibelikan rokok?"
"Suami saya tidak merokok, Pak."
"Setahu Ibu, apa Bapak punya penyakit?"
"Setahu saya Bapak tidak mengidap penyakit apa-apa."
"Jantung, misalnya?"
Istri Kolbuher menggeleng.
"Atau penyakit lain barangkali?"
"Tidak."
"Paru-paru?"
Istri Kolbuher untuk kesekian kalinya menggeleng dan kemudian berkata, "penyakitnya cuma satu, Pak...."
"Apa itu, Bu?"
"Penyakitnya suka baca dan dia kutu buku."
***
ISTRI Kolbuher memang tidak habis mengerti. Meski sudah bersepakat untuk tidak membeli satu eksemplar buku pun, koleksi buku Kolbuher tetap saja bertambah dari hari ke hari.
Ada saja pengarang yang merasa tidak afdal kalau tidak mengirimkan buku barunya kepada Kolbuher. Ada saja penerbit yang merasa belum sreg kalau tidak mengirimi Kolbuher buku baru mereka. Ada saja kenalan Kolbuher yang baru pulang dari luar negeri dan mengoleh-olehinya buku. Ada saja tetangga Kolbuher yang bekerja di penerbit dan percetakan yang menghadiahinya buku baru.
"Lha, rumah kita ini jadi kayak perpustakaan saja, Pak," kata istrinya pada suatu ketika.
"Ya, tak apa kan, Bu?"
"Tapi bukumu sudah merayap ke mana-mana, Pak. Ke ruang makan, ke kamar tidur, ke ruang keluarga."
"Ya, tak apa toh Bu? Nanti juga pasti ada gunanya."
Kalau banyak orang bingung menghadapi pensiun, tidaklah demikian dengan Kolbuher.
"Aku sudah merencanakan banyak hal untuk mengisi pensiunku," katanya.
Satu hal yang pasti ingin dilakukan Kolbuher adalah membaca semua buku koleksinya yang tak sempat dibaca selama ini.
Setelah membacai buku itu, rencana lain Kolbuher ialah menulis. Dari membaca buku itu, pasti timbul ide menulis artikel. Kalau dimuat, honornya lumayan untuk menambah uang pensiun. Di samping itu, Kolbuher juga bisa menulis resensi buku. Bukan hanya itu. Kolbuher pun bisa menulis pengalamannya selama menjadi direktur sebuah perusahaan. Misalnya, menulis sekitar manajemen, pengelolaan SDM, dan macam-macam.
Jadi, Kolbuher merasa, ia pasti tidak akan kesepian menjalani masa pensiun. Pasti banyak kegiatan bermanfaat yang bisa dilakukannya. Apalagi ia masih sering diundang berceramah ke berbagai kampus dan perusahaan untuk 'berbagi pengalaman'.
Kalau bosan membaca, menulis, dan berceramah, Kolbuher pun bisa berkebun. Cukup banyak tanaman di halaman rumahnya. Memotong batang, ranting, dan daun tanaman, serta mengganti tanahnya dan memupuknya, tentulah kegiatan yang juga banyak memakan waktu. Untungnya, Kolbuher senang berkebun dan memelihara tanaman.
"Jadi, mana mungkin aku kesepian," katanya kepada seorang temannya yang pernah mengatakan bahwa orang pensiun itu sering kesepian.
***
SEBELUM pensiun, Kolbuher memang tergolong rajin ke toko buku. Kalau ia menemani istrinya berbelanja ke pasar swalayan di plaza atau mal, Kolbuher selalu menyempatkan diri ke toko buku.
Menurut Kolbuher, kalau sudah ke toko buku, "Rasanya ada yang kurang kalau tidak beli buku. Ibarat ke Yogya tapi tidak ke Malioboro, atau ibarat ke Roma tapi tidak ke Koloseum".
Itu pula yang menjengkelkan istri Kolbuher. Setiap ke toko buku, Kolbuher pasti beli buku (minimal satu buku), padahal istrinya tahu persis buku itu hanya ditumpuk di rumah alias tak pernah dibaca. Bagaimana mau dibaca? Pukul 5.30 pagi Kolbuher sudah meninggalkan rumah dan berangkat ke kantor. Tiba kembali di rumah pukul 18.00, kadang-kadang pukul 19.00, atau bahkan pukul 20.00 (kalau ada rapat mendadak). Sudah capek! Kapan mau baca buku?
"Kalau tak sempat dibaca buat apa beli, Pak?" kata istrinya.
"Siapa tahu bukunya dilarang kelak," jawab Kolbuher. "Jadi, aku tak perlu heboh mencari bukunya kalau nanti diberedel penguasa."
Pada saat lain, Kolbuher memberi alasan lain,
"Siapa tahu buku itu tidak cetak ulang. Jadi, aku sudah punya bukunya."
Istrinya masih belum paham jalan pikiran Kolbuher.
"Kalau tidak dibaca, kita kan cuma buang-buang uang, Pak. Lebih baik ditabung duitnnya. Mana memenuhi rumah lagi, padahal Bapak sendiri tahu, rumah kita sudah penuh dengan buku."
"Nanti akan kubaca setelah pensiun."
***
KOLEKSI buku Kolbuher aneka ragam. Buku apa saja dia koleksi, baik buku antik maupun buku baru. Dia punya buku History of Java Raffles. Ada buku Mein Kampf-nya Hitler. Ada juga Kamus Umum Bahasa Indonesia WJS Poerwadarminta edisi 1952. Ada pula novel Siti Nurbaya Marah Roesli cetakan 1922. Ada buku Also sprach Zarathustra-nya Nietzsche. Atlas juga dia koleksi, termasuk atlas kuno semisal Atlas Sejarah karya Muhammad Yamin.
Itu pula yang membingungkan istri Kolbuher.
"Untuk apa sih menyimpan buku-buku kuno itu, Pak? Cuma buang-buang duit dan membuat rumah kita kayak gudang."
"Siapa tahu anak cucu kita nanti membutuhkannya."
"Kalau anak cucu kita tidak membutuhkan, bagaimana?"
"Mungkin tetangga kita membutuhkannya."
"Kalau mereka tidak membutuhkannya?"
"Siapa tahu anggota masyarakat lain membutuhkan. Pokoknya, aku yakin Bu, orang, entah siapa, suatu ketika pasti membutuhkan buku yang aku koleksi ini."
***
DALAM kenyataannya, memang banyak orang yang membutuhkan buku koleksi Kolbuher. Uniknya, Kolbuher selalu rela meminjamkan bukunya tanpa bayar dan tanpa jaminan.
"Lo, kok bisa?" Anda barangkali tak percaya.
"Saya percaya, kalau seseorang meminjam buku saya dan tidak mengembalikannya, orang itu akan kualat dan tak berani datang ke sini lagi," kata Kolbuher.
Memang, semua buku yang dipinjamkan Kolbuher selalu dikembalikan tepat pada waktunya. Tidak pernah ada yang mangkir atau hilang atau sobek halaman-halamannya.
Dengan begitu, banyak orang berutang budi pada Kolbuher. Sering orang mencari buku ke Perpustakaan Kota atau Perpustakaan Nasional, namun tak menemukannya.
"Kalau sudah begitu, bahagia rasanya dapat membantu orang yang memerlukan buku itu," kata Kolbuher.
Namun, istri Kolbuher merasa perilaku suaminya itu malah sia-sia saja.
"Rumah kita jadi kayak perpustakaan umum saja, Pak."
"Tidak apa kan kita membantu orang lain."
"Ya, tapi rumah kita kan jadi ribet terus. Tiap hari saja ada orang yang mencari buku ini dan buku itu."
***
DARI hari ke hari, koleksi buku Kolbuher bertambah terus. Makin lama makin penuh rumahnya. Hanya kamar mandi dan dapur saja yang tidak dikepung buku. Tempat tidur Kolbuher yang bagian kepalanya ada raknya dan bisa diisi buku sampai ke atas pun dipenuhi buku. Pernah suatu malam, Kolbuher terbangun secara mendadak karena kepalanya kejatuhan buku. Pernah pula seorang cucu Kolbuher terpeleset karena kebetulan ada buku yang jatuh. Pada saat lain, seorang tamu pernah menabrak buku ketika hendak ke toilet.
Pendek kata, bagaimana istri Kolbuher menolak bertambahnya koleksi buku di rumahnya, ada saja alasan Kolbuher untuk membantahnya. Sampai-sampai istri Kolbuher kehabisan akal untuk menyetop aliran buku ke rumah mereka. Kata sang istri, "Terserah Bapak saja. Pokoknya, aku sudah peringatkan Bapak, lo. Kalau ada apa-apa, aku tidak tanggung, lo...."
Tak!
Ada sesuatu yang berdetak dalam dada Kolbuher. Kalau ada apa-apa, kata istrinya. Ada apa-apa maksudnya? Kolbuher tidak bisa menduga apa makna kata-kata terakhir istrinya. Ketika Kolbuher mau bertanya, istrinya sudah ngeloyor pergi.
"Saya mau ke warung sebentar," kata istrinya.
***
"BERAPA lama Ibu di warung?" tanya polisi.
"Tidak lama, Pak."
"Kira-kira lima belas menit, Pak."
"Ketika Ibu pulang, apa yang Ibu saksikan?"
"Pintu ruang perpustakaan Bapak tidak bisa dibuka."
"Lantas apa yang Ibu lakukan?"
"Saya ketok-ketok, sambil memanggil-manggil, 'Pak, Pak. Tolong buka pintunya'."
"Apa reaksi Bapak?"
"Tak ada reaksi. Biasanya kalau saya ketok-ketok, Bapak menyahut dari dalam, atau melongok sebentar...."
"Lalu, apa yang Ibu lakukan selanjutnya?"
"Saya ke rumah tetangga."
"Lantas?"
"Tetangga saya sudah melongok dari jendela...."
***
SETELAH beristirahat beberapa menit, karena istri Kolbuher minta minum, polisi melanjutkan pemeriksaan.
"Setelah tetangga melongok dari jendela, apa yang dia lihat?"
"Kata tetangga perpustakaan Bapak seperti baru diguncang gempa hebat. Semua bubrah, berantakan, amburadul, dan berjumpalitan. 'Seperti kapal pecah, Bu', kata tetangga itu."
"Bapak sendiri di mana?"
"Itulah yang tidak saya tahu, Pak."
Polisi diam sebentar.
Lantas, istri Kolbuher hanya mengatakan "jangan-jangan ..." tanpa melanjutkan kata-katanya. Selanjutnya, istri Kolbuher memejamkan mata. Seperti menahan sesuatu yang tak terbayangkan dan tak terduga telah terjadi pada suaminya.
***
KEESOKAN harinya, setelah pintu ruang perpustakaan Kolbuher dibongkar paksa, teka-teki yang menimpa Kolbuher terkuak.
TV 24 menyajikan berita: "Seorang pensiunan telah mati ditelan buku-bukunya. Kejadian itu baru diketahui setelah istrinya pulang dari warung. Ketika istrinya pergi ke warung, suaminya sedang mencari buku di ruang kerjanya yang penuh dengan buku. Entah bagaimana, rak-rak buku di keempat sisi ruangan kerja itu ambruk secara bersamaan waktunya dan menimpa orang yang ada di ruangan itu. Korban yang merupakan kolektor buku kesohor di negeri ini bernama Kolbuher."
Beberapa menit kemudian, SMS di HP orang-orang yang pernah meminjam buku dari Kolbuher secara berantai berbunyi. isi teksnya: "Pak Kolbuher sudah meninggalkan kita semua untuk selamanya. Besok kita melayat ke rumahnya, teman-teman."
Koran Pagi menurunkan kepala berita 'Perpustakaan Hidup Itu Telah Tiada'. Pada Akhir disebutkan, "Negeri ini telah kehilangan kolektor buku ulung dan tak ada tandingannya. Ia meninggalkan seorang istri, 4 anak, 12 cucu." Menurut berita itu, "koleksi buku Kolbuher sudah pantas dijadikan museum tersendiri dan dikelola oleh pemerintah dan swasta. Selain itu, Kolbuher pun pantas dianugerahi Bintang Mahaputra Kelas I karena sumbangannya bagi generasi muda. Banyak orang yang meraih gelar sarjana, megister, dan doktor di negeri ini yang pernah memanfaatkan perpustakaan kolbuher. Secara gratis lagi!"
Tabloid Kesohor memberitakan bahwa setelah polisi memeriksa perpustakaan Kolbuher, polisi sampai pada kesimpulan bahwa tiang penyangga keempat rak buku ternyata keropos akibat banjir bandang beberapa waktu lalu. Berita itu ditutup dengan kalimat, "Dengan demikian, sangkaan polisi bahwa istrinya dengan sengaja membunuh Kolbuher tidaklah terbukti."
Rumah Kolbuher memang terletak sekitar 50 meter dari pinggir sungai yang selalu menerima limpahan air dari Bogor-Puncak, yang hutannya banyak ditumbuhi beton dan pohon-pohonnya banyak ditebangi secara liar.
SEBETULNYA sudah berulang kali istri Kolbuher memperingatkan agar buku-buku di perpustakaan suaminya tidak ditambah lagi. Namun, peringatan itu tampaknya seperti angin lalu saja. Tiap hari ada saja buku yang datang. Tiap hari ada saja majalah atau jurnal yang datang.
"Lama-lama uang pensiunanmu habis untuk membeli buku, Pak," kata sang istri.
"Lo, aku kan tidak beli buku-buku itu, Bu. Mereka yang mengirimi aku buku. Masa aku tolak? Tidak mungkin toh," ujar Kolbuher.
Sejak pensiun beberapa bulan yang lalu, Kolbuher sebetulnya sudah tidak pernah membeli buku. Itu kesepakatan dengan istrinya dan dengan dirinya sendiri.
"Lagi pula, usia Bapak kan sudah lanjut. Kasihan Bapak harus mengurus sendiri buku-buku itu."
"Harusnya memang aku menggaji seseorang untuk mengurus perpustakaanku."
Pada saat lain, istri Kolbuher mengatakan, "Lama-lama perpustakaanmu tidak bisa lagi menampung buku. Jangan-jangan, rumah kita juga bisa tenggelam karena buku-bukumu."
Namun, buku tetap saja mengalir ke rumah Kolbuher. Oleh karena itu, istri Kolbuher malah pernah berkata, "Hati-hati lo, Pak. Suatu ketika Bapak bisa ditelan buku-buku itu."
***
KALAU sudah masuk ke perpustakaan merangkap ruangan kerjanya itu, Kolbuher memang tidak mau diganggu oleh siapa pun. Bahkan oleh istrinya sendiri! Ia juga tidak suka ada orang lain masuk ke ruangan itu meski hanya untuk membersihkan debu atau mengepel lantainya sekalipun. Ia tidak mau ada orang yang memindah-mindahkan susunan buku di perpustakaannya itu. Menurut Kolbuher, "Kalau letak buku di ruangan itu berubah maka aku akan bingung mencarinya nanti bila diperlukan."
Perpustakaan Kolbuher berukuran 4x6 meter. Jendelanya menghadap ke timur. Kalau pagi, ruangan itu memperoleh sinar matahari. Jendela itu dibuka sepanjang hari kecuali jika turun hujan.
Di keempat sisi tembok berdiri rak buku yang terbuat dari kayu, berpetak-petak, dan penuh dengan buku hingga ke langit-langit. Bahkan di lantai depan rak buku itu pun bergeletakan buku yang tidak termuat dalam rak.
Di tengah ruangan menghadap ke jendela, membelakangi pintu masuk, terdapat kursi empuk dan meja kerja Kolbuher. Di meja itu ada komputer. Namun, meja itu pun terasa sumpek karena kiri kanannya penuh dengan buku.
Istri Kolbuher sudah mengingatkan agar buku di meja itu disingkirkan sebagian. Dengan demikian, Kolbuher bisa lebih lega membaca, menulis, ataupun menggunakan komputer.
Namun, Kolbuher cuek saja. Bahkan, Kolbuher juga bergeming ketika istrinya berkata sambil meninggalkan perpustakaan yang sumpek itu, "Suatu saat, buku-buku itu bisa menelanmu hidup-hidup, lo Pak."
***
BUKU-BUKU itu pula yang menyebabkan istri Kolbuher kini berada di kantor polisi. "Ketika Ibu meninggalkan Bapak menuju warung, apakah Bapak masih sehat?" istri Kolbuher mengangguk.
"Waktu itu, Bapak tidak mengatakan apa-apa?"
"Tidak, Pak."
"Barangkali memesan sesuatu dari warung?"
Istri Kolbuher menggeleng lagi.
"Misalnya minta dibelikan rokok?"
"Suami saya tidak merokok, Pak."
"Setahu Ibu, apa Bapak punya penyakit?"
"Setahu saya Bapak tidak mengidap penyakit apa-apa."
"Jantung, misalnya?"
Istri Kolbuher menggeleng.
"Atau penyakit lain barangkali?"
"Tidak."
"Paru-paru?"
Istri Kolbuher untuk kesekian kalinya menggeleng dan kemudian berkata, "penyakitnya cuma satu, Pak...."
"Apa itu, Bu?"
"Penyakitnya suka baca dan dia kutu buku."
***
ISTRI Kolbuher memang tidak habis mengerti. Meski sudah bersepakat untuk tidak membeli satu eksemplar buku pun, koleksi buku Kolbuher tetap saja bertambah dari hari ke hari.
Ada saja pengarang yang merasa tidak afdal kalau tidak mengirimkan buku barunya kepada Kolbuher. Ada saja penerbit yang merasa belum sreg kalau tidak mengirimi Kolbuher buku baru mereka. Ada saja kenalan Kolbuher yang baru pulang dari luar negeri dan mengoleh-olehinya buku. Ada saja tetangga Kolbuher yang bekerja di penerbit dan percetakan yang menghadiahinya buku baru.
"Lha, rumah kita ini jadi kayak perpustakaan saja, Pak," kata istrinya pada suatu ketika.
"Ya, tak apa kan, Bu?"
"Tapi bukumu sudah merayap ke mana-mana, Pak. Ke ruang makan, ke kamar tidur, ke ruang keluarga."
"Ya, tak apa toh Bu? Nanti juga pasti ada gunanya."
Kalau banyak orang bingung menghadapi pensiun, tidaklah demikian dengan Kolbuher.
"Aku sudah merencanakan banyak hal untuk mengisi pensiunku," katanya.
Satu hal yang pasti ingin dilakukan Kolbuher adalah membaca semua buku koleksinya yang tak sempat dibaca selama ini.
Setelah membacai buku itu, rencana lain Kolbuher ialah menulis. Dari membaca buku itu, pasti timbul ide menulis artikel. Kalau dimuat, honornya lumayan untuk menambah uang pensiun. Di samping itu, Kolbuher juga bisa menulis resensi buku. Bukan hanya itu. Kolbuher pun bisa menulis pengalamannya selama menjadi direktur sebuah perusahaan. Misalnya, menulis sekitar manajemen, pengelolaan SDM, dan macam-macam.
Jadi, Kolbuher merasa, ia pasti tidak akan kesepian menjalani masa pensiun. Pasti banyak kegiatan bermanfaat yang bisa dilakukannya. Apalagi ia masih sering diundang berceramah ke berbagai kampus dan perusahaan untuk 'berbagi pengalaman'.
Kalau bosan membaca, menulis, dan berceramah, Kolbuher pun bisa berkebun. Cukup banyak tanaman di halaman rumahnya. Memotong batang, ranting, dan daun tanaman, serta mengganti tanahnya dan memupuknya, tentulah kegiatan yang juga banyak memakan waktu. Untungnya, Kolbuher senang berkebun dan memelihara tanaman.
"Jadi, mana mungkin aku kesepian," katanya kepada seorang temannya yang pernah mengatakan bahwa orang pensiun itu sering kesepian.
***
SEBELUM pensiun, Kolbuher memang tergolong rajin ke toko buku. Kalau ia menemani istrinya berbelanja ke pasar swalayan di plaza atau mal, Kolbuher selalu menyempatkan diri ke toko buku.
Menurut Kolbuher, kalau sudah ke toko buku, "Rasanya ada yang kurang kalau tidak beli buku. Ibarat ke Yogya tapi tidak ke Malioboro, atau ibarat ke Roma tapi tidak ke Koloseum".
Itu pula yang menjengkelkan istri Kolbuher. Setiap ke toko buku, Kolbuher pasti beli buku (minimal satu buku), padahal istrinya tahu persis buku itu hanya ditumpuk di rumah alias tak pernah dibaca. Bagaimana mau dibaca? Pukul 5.30 pagi Kolbuher sudah meninggalkan rumah dan berangkat ke kantor. Tiba kembali di rumah pukul 18.00, kadang-kadang pukul 19.00, atau bahkan pukul 20.00 (kalau ada rapat mendadak). Sudah capek! Kapan mau baca buku?
"Kalau tak sempat dibaca buat apa beli, Pak?" kata istrinya.
"Siapa tahu bukunya dilarang kelak," jawab Kolbuher. "Jadi, aku tak perlu heboh mencari bukunya kalau nanti diberedel penguasa."
Pada saat lain, Kolbuher memberi alasan lain,
"Siapa tahu buku itu tidak cetak ulang. Jadi, aku sudah punya bukunya."
Istrinya masih belum paham jalan pikiran Kolbuher.
"Kalau tidak dibaca, kita kan cuma buang-buang uang, Pak. Lebih baik ditabung duitnnya. Mana memenuhi rumah lagi, padahal Bapak sendiri tahu, rumah kita sudah penuh dengan buku."
"Nanti akan kubaca setelah pensiun."
***
KOLEKSI buku Kolbuher aneka ragam. Buku apa saja dia koleksi, baik buku antik maupun buku baru. Dia punya buku History of Java Raffles. Ada buku Mein Kampf-nya Hitler. Ada juga Kamus Umum Bahasa Indonesia WJS Poerwadarminta edisi 1952. Ada pula novel Siti Nurbaya Marah Roesli cetakan 1922. Ada buku Also sprach Zarathustra-nya Nietzsche. Atlas juga dia koleksi, termasuk atlas kuno semisal Atlas Sejarah karya Muhammad Yamin.
Itu pula yang membingungkan istri Kolbuher.
"Untuk apa sih menyimpan buku-buku kuno itu, Pak? Cuma buang-buang duit dan membuat rumah kita kayak gudang."
"Siapa tahu anak cucu kita nanti membutuhkannya."
"Kalau anak cucu kita tidak membutuhkan, bagaimana?"
"Mungkin tetangga kita membutuhkannya."
"Kalau mereka tidak membutuhkannya?"
"Siapa tahu anggota masyarakat lain membutuhkan. Pokoknya, aku yakin Bu, orang, entah siapa, suatu ketika pasti membutuhkan buku yang aku koleksi ini."
***
DALAM kenyataannya, memang banyak orang yang membutuhkan buku koleksi Kolbuher. Uniknya, Kolbuher selalu rela meminjamkan bukunya tanpa bayar dan tanpa jaminan.
"Lo, kok bisa?" Anda barangkali tak percaya.
"Saya percaya, kalau seseorang meminjam buku saya dan tidak mengembalikannya, orang itu akan kualat dan tak berani datang ke sini lagi," kata Kolbuher.
Memang, semua buku yang dipinjamkan Kolbuher selalu dikembalikan tepat pada waktunya. Tidak pernah ada yang mangkir atau hilang atau sobek halaman-halamannya.
Dengan begitu, banyak orang berutang budi pada Kolbuher. Sering orang mencari buku ke Perpustakaan Kota atau Perpustakaan Nasional, namun tak menemukannya.
"Kalau sudah begitu, bahagia rasanya dapat membantu orang yang memerlukan buku itu," kata Kolbuher.
Namun, istri Kolbuher merasa perilaku suaminya itu malah sia-sia saja.
"Rumah kita jadi kayak perpustakaan umum saja, Pak."
"Tidak apa kan kita membantu orang lain."
"Ya, tapi rumah kita kan jadi ribet terus. Tiap hari saja ada orang yang mencari buku ini dan buku itu."
***
DARI hari ke hari, koleksi buku Kolbuher bertambah terus. Makin lama makin penuh rumahnya. Hanya kamar mandi dan dapur saja yang tidak dikepung buku. Tempat tidur Kolbuher yang bagian kepalanya ada raknya dan bisa diisi buku sampai ke atas pun dipenuhi buku. Pernah suatu malam, Kolbuher terbangun secara mendadak karena kepalanya kejatuhan buku. Pernah pula seorang cucu Kolbuher terpeleset karena kebetulan ada buku yang jatuh. Pada saat lain, seorang tamu pernah menabrak buku ketika hendak ke toilet.
Pendek kata, bagaimana istri Kolbuher menolak bertambahnya koleksi buku di rumahnya, ada saja alasan Kolbuher untuk membantahnya. Sampai-sampai istri Kolbuher kehabisan akal untuk menyetop aliran buku ke rumah mereka. Kata sang istri, "Terserah Bapak saja. Pokoknya, aku sudah peringatkan Bapak, lo. Kalau ada apa-apa, aku tidak tanggung, lo...."
Tak!
Ada sesuatu yang berdetak dalam dada Kolbuher. Kalau ada apa-apa, kata istrinya. Ada apa-apa maksudnya? Kolbuher tidak bisa menduga apa makna kata-kata terakhir istrinya. Ketika Kolbuher mau bertanya, istrinya sudah ngeloyor pergi.
"Saya mau ke warung sebentar," kata istrinya.
***
"BERAPA lama Ibu di warung?" tanya polisi.
"Tidak lama, Pak."
"Kira-kira lima belas menit, Pak."
"Ketika Ibu pulang, apa yang Ibu saksikan?"
"Pintu ruang perpustakaan Bapak tidak bisa dibuka."
"Lantas apa yang Ibu lakukan?"
"Saya ketok-ketok, sambil memanggil-manggil, 'Pak, Pak. Tolong buka pintunya'."
"Apa reaksi Bapak?"
"Tak ada reaksi. Biasanya kalau saya ketok-ketok, Bapak menyahut dari dalam, atau melongok sebentar...."
"Lalu, apa yang Ibu lakukan selanjutnya?"
"Saya ke rumah tetangga."
"Lantas?"
"Tetangga saya sudah melongok dari jendela...."
***
SETELAH beristirahat beberapa menit, karena istri Kolbuher minta minum, polisi melanjutkan pemeriksaan.
"Setelah tetangga melongok dari jendela, apa yang dia lihat?"
"Kata tetangga perpustakaan Bapak seperti baru diguncang gempa hebat. Semua bubrah, berantakan, amburadul, dan berjumpalitan. 'Seperti kapal pecah, Bu', kata tetangga itu."
"Bapak sendiri di mana?"
"Itulah yang tidak saya tahu, Pak."
Polisi diam sebentar.
Lantas, istri Kolbuher hanya mengatakan "jangan-jangan ..." tanpa melanjutkan kata-katanya. Selanjutnya, istri Kolbuher memejamkan mata. Seperti menahan sesuatu yang tak terbayangkan dan tak terduga telah terjadi pada suaminya.
***
KEESOKAN harinya, setelah pintu ruang perpustakaan Kolbuher dibongkar paksa, teka-teki yang menimpa Kolbuher terkuak.
TV 24 menyajikan berita: "Seorang pensiunan telah mati ditelan buku-bukunya. Kejadian itu baru diketahui setelah istrinya pulang dari warung. Ketika istrinya pergi ke warung, suaminya sedang mencari buku di ruang kerjanya yang penuh dengan buku. Entah bagaimana, rak-rak buku di keempat sisi ruangan kerja itu ambruk secara bersamaan waktunya dan menimpa orang yang ada di ruangan itu. Korban yang merupakan kolektor buku kesohor di negeri ini bernama Kolbuher."
Beberapa menit kemudian, SMS di HP orang-orang yang pernah meminjam buku dari Kolbuher secara berantai berbunyi. isi teksnya: "Pak Kolbuher sudah meninggalkan kita semua untuk selamanya. Besok kita melayat ke rumahnya, teman-teman."
Koran Pagi menurunkan kepala berita 'Perpustakaan Hidup Itu Telah Tiada'. Pada Akhir disebutkan, "Negeri ini telah kehilangan kolektor buku ulung dan tak ada tandingannya. Ia meninggalkan seorang istri, 4 anak, 12 cucu." Menurut berita itu, "koleksi buku Kolbuher sudah pantas dijadikan museum tersendiri dan dikelola oleh pemerintah dan swasta. Selain itu, Kolbuher pun pantas dianugerahi Bintang Mahaputra Kelas I karena sumbangannya bagi generasi muda. Banyak orang yang meraih gelar sarjana, megister, dan doktor di negeri ini yang pernah memanfaatkan perpustakaan kolbuher. Secara gratis lagi!"
Tabloid Kesohor memberitakan bahwa setelah polisi memeriksa perpustakaan Kolbuher, polisi sampai pada kesimpulan bahwa tiang penyangga keempat rak buku ternyata keropos akibat banjir bandang beberapa waktu lalu. Berita itu ditutup dengan kalimat, "Dengan demikian, sangkaan polisi bahwa istrinya dengan sengaja membunuh Kolbuher tidaklah terbukti."
Rumah Kolbuher memang terletak sekitar 50 meter dari pinggir sungai yang selalu menerima limpahan air dari Bogor-Puncak, yang hutannya banyak ditumbuhi beton dan pohon-pohonnya banyak ditebangi secara liar.
Langganan:
Komentar (Atom)




